
- Judul: 1984
- Pengarang: George Orwell
- Penerbit: Mizan
- Tahun Terbit: 2016
- ISBN: 9786022912347
- Halaman: 397
- Deskripsi Fisik: 14 cm x 21 cm
ULAS BUKU, Pegaf.com — Membaca George Orwell barangkali sama seperti menatap cermin di ruangan yang lampunya baru saja dipadamkan. Kita tahu ada wajah di sana, tapi kita tidak lagi mengenali garis-garisnya. 1984, dalam terjemahan Mizan yang muram itu, bukan sekadar cerita tentang Winston Smith yang malang. Ia adalah puisi yang gagal tentang bagaimana kita kehilangan hak untuk memiliki diri sendiri.
Aan Mansyur mungkin akan menulisnya begini: “Kesedihan adalah sebuah layar yang tidak pernah tidur, dan cinta adalah pesan yang dihapus sebelum sempat dikirim.”
Di Antara Menara dan Rimba yang Cemas
Di Tanah Papua, Orwell tidak datang dengan seragam militer, melainkan melalui sinyal-sinyal yang bergetar di udara. Kita sering membayangkan kemajuan sebagai kabel-kabel yang menjalar ke desa-desa di Pegunungan Arfak, membawa janji tentang dunia yang lebih luas. Namun, 1984 mengingatkan kita bahwa setiap garis sinyal adalah seutas tali jemuran tempat privasi kita dipajang untuk dilihat oleh mata yang tak pernah berkedip.
Winston Smith bekerja di Kementerian Kebenaran, mengubah masa lalu agar sesuai dengan kehendak “Big Brother”. Di Papua hari ini, kementerian itu mungkin bernama algoritma. Ia bekerja dalam sunyi, menentukan apa yang boleh kita lihat di beranda media sosial dan apa yang harus tenggelam. Ketika sejarah sebuah bangsa atau identitas sebuah komunitas bisa dimodifikasi melalui satu klik, kita sedang hidup di dalam bab-bab yang ditulis Orwell puluhan tahun silam.
Kamar 101 di Layar Gawai
Ketakutan terbesar Winston adalah Kamar 101—sebuah tempat di mana kau akan berhadapan dengan hal yang paling kau benci. Bagi pemuda Papua masa kini, Kamar 101 bisa jadi adalah ruang digital yang bocor. Sebuah video pribadi yang direkam diam-diam oleh peretas, atau data biometrik yang disalahgunakan, adalah bentuk siksaan baru.
Dahulu, pengawasan butuh agen-agen rahasia di sudut jalan. Sekarang, kita secara sukarela membawa alat pengawas itu di dalam kantong celana. Kita memotret senja di Jayapura, membagikan lokasi di Manokwari, dan tanpa sadar sedang menyerahkan koordinat kerentanan kita kepada sosok anonim yang bersembunyi di balik barisan kode. Big Brother tidak lagi berteriak melalui pengeras suara; ia berbisik melalui notifikasi yang terasa akrab.
Bahasa yang Disempitkan
Newspeak atau Bicara-Baru adalah proyek paling mengerikan di Oceania. Tujuannya sederhana: mempersempit jangkauan berpikir dengan cara menghapus kata-kata. Jika kita tidak punya kata untuk “kebebasan”, maka kita tidak akan pernah merasa tidak bebas.
Di tengah gegap gempita dunia digital Papua, ada bahaya Newspeak jenis baru. Narasi-narasi tunggal yang dipaksakan dan penghancuran karakter melalui label-label digital membuat percakapan yang jujur menjadi langka. Kebebasan, seperti kata Orwell, adalah kebebasan untuk mengatakan bahwa dua tambah dua adalah empat. Di Papua, itu berarti kebebasan untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah arus informasi yang ingin menyeragamkan segalanya.
Menjaga Api dalam Gelap
Buku ini adalah sebuah peringatan yang dingin. Mizan menghadirkan kembali kisah ini agar kita tidak lupa cara menjadi manusia. Winston Smith akhirnya kalah, namun kekalahannya adalah pelajaran bagi kita yang masih memiliki kesempatan untuk melawan.
Membaca 1984 di Papua adalah upaya menjaga api ingatan. Di tengah teknologi yang bisa melacak setiap langkah, satu-satunya ruang yang harus tetap merdeka adalah isi kepala kita. Karena pada akhirnya, seperti yang Orwell tuliskan, satu-satunya milikmu yang paling berharga adalah beberapa sentimeter kubik di dalam tengkorakmu. Di sanalah, rahasia dan harapan harus tetap dijaga, jauh dari jangkauan layar-layar yang mengintai. *)
Penulis: Elany
Editor: Dilina