/

Manokwari Kota Injil dan Wajah Peradaban Kita

/
1468 dilihat
7 menit baca

HUMANIORA, Pegaf.com — Bagi masyarakat Papua, terutama yang bermukim di Manokwari, Pulau Mansinam bukan sekadar tempat wisata religi. Ia adalah simbol peradaban. Pada tanggal 5 Februari 1855, dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, mendarat di pulau kecil itu untuk memulai misi penginjilan. Jejak kaki mereka menjadi awal dari penyebaran Kekristenan dan pendidikan di Tanah Papua. Sejak saat itu, Manokwari dikenal sebagai “Kota Injil”, sebuah julukan yang bukan hanya religius, tapi juga menyimpan makna historis dan budaya yang dalam.

Pulau Mansinam kemudian menjadi “altar” peradaban baru yang ditopang oleh pengajaran, kedisiplinan, dan pengenalan terhadap nilai-nilai etika universal. Di sanalah muncul pendidikan pertama, rumah sakit pertama, dan perubahan tata sosial masyarakat pesisir Papua. Tak heran jika Pemerintah menetapkan Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua sebagai hari besar keagamaan yang diperingati setiap tahun secara meriah oleh umat Kristen.

Namun, seperti peradaban manapun di dunia, idealisme awal itu lambat laun menghadapi tantangan zaman.

Dari Kota Religi ke Kota Perubahan Nilai

Kini, setelah lebih dari satu abad berlalu, Manokwari menghadapi berbagai pergeseran nilai dan struktur sosial. Kota yang dulu identik dengan “kota terang” kini juga dikenal sebagai kota dengan tingkat konsumsi miras yang mengkhawatirkan. Sebuah studi oleh Badan Pusat Statistik Papua Barat (2023) menunjukkan bahwa konsumsi minuman keras di Manokwari termasuk yang tertinggi di Tanah Papua, bersaing dengan Sorong dan Nabire.

Ilustrasi: Manokwari Kota Injil dan Wajah Peradaban Kita | Dok. Pegaf.com / Gavier
Ilustrasi: Manokwari Kota Injil dan Wajah Peradaban Kita | Dok. Pegaf.com / Gavier

Fenomena miras bukan sekadar soal konsumsi, tapi juga efek domino sosial: kekerasan dalam rumah tangga, kriminalitas, kecelakaan, hingga degradasi moral. Bahkan dalam peringatan Hari Pekabaran Injil tahun 2024, para tokoh gereja secara terbuka mengkritik budaya minum yang kian meluas, bahkan di kalangan generasi muda yang seharusnya menjadi penerus nilai-nilai Injil.

Baca juga:  Bupati Manokwari Berlakukan Pembatasan Belajar Demi Keamanan 1–4 September 2025

Di sisi lain, data dari Dinas Kesehatan Papua Barat mengungkapkan peningkatan kasus infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS di Manokwari. Banyak dari kasus ini ditemukan pada kelompok usia muda, dan berkorelasi erat dengan perilaku seks bebas serta kurangnya pendidikan seks yang memadai. Kota yang dulunya menjadi pusat moralitas kini menyimpan ironi yang pahit.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

error: Maaf, seluruh konten dilindungi Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta!