/

Manokwari Kota Injil dan Wajah Peradaban Kita

/
1469 dilihat
7 menit baca

Pemerintahan Korup dan Anti Kritik: Di Mana Cermin Moral?

Dalam sebuah peradaban, pemerintahan adalah cermin dari nilai kolektif masyarakatnya. Pemerintahan yang korup mencerminkan kebudayaan yang permisif terhadap pelanggaran nilai. Dalam konteks Manokwari, berbagai laporan masyarakat dan hasil investigasi media lokal menyoroti praktik-praktik korupsi di beberapa instansi pemerintahan daerah.

Laporan dari Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan bahwa pada tahun 2022–2024, Papua Barat masuk dalam lima besar provinsi dengan kasus penyalahgunaan anggaran tertinggi di kawasan timur Indonesia. Ironisnya, sebagian besar praktik ini terjadi saat slogan-slogan moral dikibarkan tinggi di berbagai spanduk dan baliho keagamaan.

Kritik publik pun tidak leluasa. Pemerintahan lokal cenderung anti kritik, dengan membungkam suara aktivis dan jurnalis yang vokal terhadap kebijakan publik yang menyimpang. Ruang-ruang diskusi publik yang bebas dan terbuka menjadi langka. Ini menunjukkan bahwa peradaban yang awalnya dibangun atas dasar kebebasan berpikir dan spiritualitas kini justru dibelenggu ketakutan terhadap suara rakyat.

Budaya Pop dan Alienasi Generasi Muda

Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya pop—baik dalam bentuk musik, fesyen, hingga gaya hidup—merasuki kehidupan generasi muda Manokwari. Platform seperti TikTok dan Instagram menjadi “guru baru” dalam membentuk nilai dan pandangan dunia anak-anak muda. Di satu sisi, ini membuka ruang kreativitas, tetapi di sisi lain menciptakan keterputusan dengan akar budaya dan sejarah lokal.

Baca juga:  Video Amatir Rekam Kepanikan Saat Gempa 8,7 SR Guncang Kamchatka, Rusia

Alih-alih memahami sejarah Pulau Mansinam atau kisah penginjil Ottow dan Geissler, banyak anak muda lebih akrab dengan tren dance challenge atau fashion haul. Kearifan lokal—termasuk bahasa daerah seperti Hatam, Meyah, atau Biak—perlahan menghilang, tergantikan oleh slang digital dan budaya selebritas.

Filsuf Jerman, Jürgen Habermas, pernah mengingatkan bahwa masyarakat modern menghadapi krisis legitimasi, ketika sistem sosial kehilangan fondasi moralnya. Dalam konteks Manokwari, kehilangan itu nyata. Di kota yang dibangun di atas Injil, kita kini menyaksikan disorientasi nilai yang membuat masyarakat bingung menentukan arah.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

error: Maaf, seluruh konten dilindungi Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta!