/

Tambang Emas Ilegal Arfak: Nestapa Sungai Wariori

/
2008 dilihat
7 menit baca

Bupati Hermus Indou hanya mengangkat bahu. “Kami di daerah tidak bisa berbuat banyak,” ujarnya. “Kalau tidak didukung penegakan dari aparat, sia-sia semua.”

Yan Mandenas, anggota DPR RI dari Papua, bicara lebih lugas: “Kepala-kepala daerah kita di Papua kadang-kadang tidak berdaya. Di Timika pun begitu, di Nabire pun begitu. Sampai KKB harus bantai penambang. Karena kecemburuan. Akibat dari tidak ditata.”

Presiden Prabowo Subianto sudah mengingatkan soal tambang ilegal dalam pidato kenegaraan Sidang Tahunan MPR 2025. Seribu lebih titik tambang ilegal disebutnya merugikan negara hingga Rp300 triliun. Tapi di Wariori, kata-kata itu masih mengapung di udara, belum menjelma menjadi langkah kaki.

Sungai yang Tersisa Hanya Nama

Sungai Wariori, yang mengalir sejauh 30 kilometer dari pegunungan ke Samudra Pasifik, dulunya adalah urat nadi bagi lebih dari 4.000 orang. Di sana anak-anak mandi, para petani mengairi sawah, ibu-ibu mencuci beras.

Kini airnya keruh, kadang berbuih, kadang berwarna hijau yang tidak dikenal dalam palet alam. Bau logam menyengat udara.

“Hari ini pertanian di dua distrik ini stagnan,” kata Hermus. “Masyarakat tidak bisa melakukan aktivitas pertanian karena air sudah tercemar.”

Bekas tambang membentuk danau-danau buatan. Di beberapa titik, lubang-lubang itu mencapai kedalaman 30 meter. Setiap hujan deras adalah ancaman. Longsor tinggal menunggu kesempatan.

Mitos yang Diciptakan

Nama Tambang Rakyat hanyalah ilusi. Ia memberi kesan milik bersama, padahal rakyat hanya jadi penggali tanah dan penjaga malam.

Baca juga:  Legalitas Miras Manokwari Ditetapkan, PT Bram Bintang Timur Resmi Jadi Distributor

“Para pemodal memanfaatkan masyarakat adat,” kata Hermus. “Membenturkan mereka dengan pemerintah.”

Kapolda Papua Barat, Brigjen Polisi Johnny Edison Isir, mengaku telah melakukan penindakan awal. “Kami pastikan tidak ada anggota kami yang terlibat,” ujarnya. “Kita akan segera mungkin langkahnya melakukan penertiban.”

Namun, jaringan besar yang mengatur arus emas ini belum tersentuh.

Bom Waktu Ekologi

Malam tiba di Arfak. Hutan kembali sunyi. Sungai Wariori mengalir perlahan di bawah cahaya bulan yang pucat. Gubuk-gubuk terpal berdiri seperti luka yang menolak sembuh.

Bom waktu ekologi itu berdetak saban hari. Longsor bisa datang kapan saja. Banjir bandang bisa menyapu ladang. Air beracun bisa mengalir ke sumur anak-anak.

Ribuan gram emas terus keluar dari tanah, tapi yang tersisa adalah burung cenderawasih yang kehilangan hutan, ladang sagu yang tak lagi hijau, dan sungai yang tinggal nama.

Di Jakarta, pidato-pidato bergema di ruang berpendingin udara. Di Manokwari, janji-janji berulang setiap musim. Tapi di Wariori, yang terdengar hanya bunyi cangkul menghantam tanah dan keheningan yang menebal setelahnya. *)

Penulis: Juan

Editor: Dilina

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

error: Maaf, seluruh konten dilindungi Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta!